Aurat, model teladan dan Liberal

“Yang ingin saya jawab adalah soal bagaimana kewajiban menutup aurat dalam pandangan Islam, bagaimana keteladanan dalam Islam, dan soal kelompok liberal.

Pertama

Islam mewajibkan semua manusia menutup auratnya. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an [klik untuk dalil 24:30-31, 33:59, 7:26-27] dan semua ulama dunia tidak ada berbantah-bantahan mengenainya. Apa batasan aurat dalam Islam? Batasan aurat yang ada di berbagai ayat Allah Swt di dalam al-Qur’an sudah kita ketahui bersama. Saya tidak ingin mempersulit, ada pedoman yang sangat mudah bagi kita dalam menentukan mana batasan aurat manusia, yakni: batasan aurat adalah apa yang boleh ditampakkan dalam sholat. Itu pedomannya. Yang berarti jika dia perempuan, maka yang hanya boleh ditampakkan hanyalah telapak tangan dan wajah. Demikian pula dengan batasan aurat pada lelaki.

kebaya buat solat??

 

Nah, jika pakaian kebaya misalkan dianggap cukup sopan, apakah sholat boleh pakai kebaya? Jangan-jangan nanti kita malah dianggap kurang waras. Sebab itu, sebagai mahluk yang dhoif, kita seharusnya tunduk sepenuhnya pada Islam dan bukan sebaliknya, menafsirkan Islam dengan hawa nafsu.

Persoalan menutup aurat atau jilbab juga bukan sekadar persoalan secarik kain semata. Jika ada orang yang mengatakan hal itu, sebaiknya dia mulai belajar kembali dari awal, iaitu Syahadat.

 

Kedua

Umat Islam di mana pun berada sampai bila-bila pun hanya boleh meneladani Rasulullah SAW. Itu saja. Dia tidak boleh meneladani yang lainnya, walau mungkin orang itu memiliki gelaran doktor bidang syariah, akidah, atau hadits, atau mengklaim diri sebagai “Ustadz Kabir” atau yang sebagainya. Semua manusia di bumi ini hanya boleh diikuti jika dia berjalan di atas rel Islam yang benar, dan wajib ditinggalkan jika dia sudah keluar dari rel Islam yang lurus. Inilah tauhid yang shahih. Rasulullah Saw Qudwatuna, itu salah satu kewajiban kita sebagai umat Islam. Bukan yang lain!

 

Ketiga

Islam adalah Islam. Tidak ada namanya Islam moderat, Islam liberal, Islam literal, Islam ini dan Islam itu. Islam adalah apa yang telah diturunkan Allah Swt melalui Rasulullah Saw. Bahkan sesungguhnya tidak ada itu Islam Sunni atau Islam Syiah. Rasulullah Saw tidak pernah membagi umat-Nya menjadi Sunni atau Syiah Hanya saja, setelah kedatangan Abdullah bin Saba, umat tauhid ini menyebut dirinya sebagai Islam Sunni untuk membedakannya dengan Syiah yang berasal dari tokoh Yahudi dari San’a, Yaman, itu.

 

Isu Liberal

Dewasa ini, segolongan orang-orang yang mencantumkan “Islam” dalam KTP-nya mengaku sebagai kelompok “Islam Liberal”. Salah satu yang mereka tentang dengan keras adalah perintah Allah Swt untuk menutup aurat. Saya tekankan di sini bahwa Islam Liberal itu bukanlah bagian dari Islam. Mereka merupakan orang-orang Liberal, kacung-kacung Dajjal,  yang memang sengaja atau tidak, disusupkan ke dalam tubuh umat Islam untuk menghancurkan agama Allah Swt ini dari dalam.

Orang-orang Liberal ini tidak hanya bergerak dalam wacana agama, tapi juga dalam bidang ekonomi, politik, budaya, industri opini, dan sebagainya. Yang bergerak dalam bidang ekonomi dan politik sekarang dikenal dengan istilah kaum NeoLib. Merekalah musuh nyata bagi umat Islam dan umat beragama lainnya sekarang ini.

Cita-cita akhir kaum liberal adalah menciptakan satu tatanan dunia baru (The New World Order) dengan satu agama bagi umat manusia yakni Pluralisme. Cita-cita akhir mereka tertera di lembaran mata uang satu dollar AS yang berbunyi “Novus Ordo Seclorum” yang berarti “Satu Tatanan Dunia Baru yang sepenuhnya Sekular”. Lucifer atau Dajjal berada di belakang gerakan liberalis. Sebab itu, jihad fi sabilillah harus ditegakkan umat Islam sedunia untuk menghancurkan mereka.

 

Memerangi musuh Islam

Di Palestina, Irak, Afghanistan, Chechnya, dan di bumi lainnya di mana mereka menggunakan senjata api, bom, dan senjata pemusnah lainnya, maka lawanlah mereka juga dengan bom, senjata api, dan sebagainya. Sedangkan di Indonesia, di mana mereka memerangi kita dengan kekuatan media massa, ekonomi dan politik, budaya, maka umat Islam Indonesia juga harus melawan mereka dengan kekuatan media massa, ekonomi, politik, dan budaya yang dimiliki.

Dalam pemilu dan pemilihan presiden (di Indonesia) kelmarin misalnya, umat Islam seharusnya tidak memilih mereka yang jelas-jelas Liberal atau NeoLib. Namun apa yang berlaku, berkali-kali umat ini terperosok ke dalam lubang yang sama. Berkali-kali umat ini menjadi pendorong mobil yang mogok. Padahal seekor keledai saja tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama. Apakah ini berarti kita lebih bebal, lebih bodoh, dan lebih pandir, dari seekor keledai? Wallahu’alam bishawab.

 

“Apakah kita masih bebal untuk terus menjual umat dan agama ini demi kekuasaan dan kelezatan duniawi yang hanya bersifat sementara?

 

Artikel penuh di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Days I Wrote..

December 2016
M T W T F S S
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: