Selalu Ada Keajaiban Hidup by Abdul Mutaqin

Mungkin ada orang yang berfikir, bahawa hidup akan terasa indah apabila selalu bergandingan dengan kemudahan. Atau berburuk sangka bahwa kesusahan hanya merosak keharmonian hidup di dunia saja. Jika fikiran ini digabungkan, maka semua orang akan menginginkan kemudahan sepanjang waktu dan tidak ingin sedikit pun merasakan penderitaan. Padahal setelah direnungkan sekali lagi, justeru hidup menjadi tidak seimbang apabila hanya dengan mengecap satu cita rasa saja. Apa rasanya bila tiba-tiba lidah manusia hanya mampu menterjemahkan rasa manis saja? Atau pahit saja? Atau masin saja? atau masam saja? Atau semua terasa tawar saja?

Jika lidah kehilangan fungsi terjemahannya atas manis, pahit, masin, masam atau tawar maka harmonisasi hidup pun akan rosak. Untuk apa lagi ada gula, kopi, garam, mangga muda atau air sumur? Tentu kepelbagaian nikmat Allah menjadi tidak bisa dijangkau dan disyukuri.

Akhirnya semua akan setuju bahwa lidah manusia dikatakan sempurna apabila semua cita rasa itu bisa diterjemahkan sesuai keadaannya. Itulah keajaiban milik Allah yang ditempelkan pada mulut manusia. Bahkan seorang tukang masak, amat percaya pada keajaiban lidahnya. Boleh dikata, kesuksesan sebuah dapur restoran amat bergantung pada lidah seorang ‘chef’.

 

Manis tak mesti bagus, Pahit pun mungkin bagus

Tidak selamanya yang pahit di lidah berdampak buruk. Tidak pula semua yang manis di lidah selalu bermanfaat. Adakalanya tubuh menjadi kuat oleh sebab ubat yang pahit melebihi pahitnya hempedu. Ada kalanya pula tubuh menjadi rosak karena rasa manis yang berlebihan.

Kesusahan ibaratnya bagai hempedu dan kemudahan seperti manisnya gula-gula. Kedua-duanya merupakan sunnatullah dalam hidup. Dia datang silih berganti. Tidak mungkin seluruh hidup berisi dengan kesulitan. Tidak mungkinlah sama seluruh kehidupan berisi dengan kemudahan. Hanya saja tahap kemudahan dan kesukaran yang dihadapi masing-masing berbeza-beza kadarnya. Allah telah menyesuaikannya untuk setiap orang. Bisa jadi, kesukaran hidup yang dialami seseorang belumlah tentu bisa ditanggung oleh yang lain. Atau mungkin saja, satu waktu seseorang tengah merasakan kemudahan hidup tetapi bagi orang lain itu hal yang biasa saja.

 

* * * * *

 

Dengan cahaya iman pula, pengalaman kelapangan dalam hidup menjadi khazanah jiwa dalam memupuk kesantuan. Ia akan jadi energi kuat untuk rela berbagi pada yang tengah ditimpa kesempitan. Maka kaya dan miskin tidak lagi dipandang hitam putih sebagai jurang yang memisah derajat sesama. Dengan pola interaksi ini, yang kuat merasa terpanggil melindungi yang lemah. Sementara yang lemah tidak akan putus asa dari rahmat Allah oleh sebab kesempitan hidupnya. Maka si miskin dan kaya, sama-sama mengucapkan syukur yang setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya karena Allah telah berkenan merekatkan hati mereka dalam persaudaraan. Makin yakinlah mereka bahwa, fainna ma’al ’ushri yusroo. Inna ma’al ’ushri yusroo. Allahu A’lam.

 

Ternyata, kesulitan itu mengantarkan kita pada keajaiban hidup!

 

Artikel penuh di sini

ps: artikel diulang cetak dalam terjemahan Bahasa Malaysia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Days I Wrote..

December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: